
Lynx yang melihat kejadian buruk akan menimpa wanita itu, segera menolongnya sebelum terlambat.

"Siapa berani mengganggu?" Teriak pimpinan perampok marah.

"Dasar kalian manusia bejat pengkhianat. Tidak seharusnya orang seperti kalian dibiarkan hidup." Bentak Lynx.

Amara yang berhasil terlepas dari pimpinan perampok segera berdiri dan berlari menemui suaminya.

"Jaga dia, jangan biarkan wanita itu kabur!" Teriak pimpinan perampok kepada anak buahnya.

"Lepaskan aku!" Teriak Amara, berusaha melepaskan dirinya yang dipegang erat oleh dua orang perampok.

"Kamu berani mengantar nyawa kesini. Berani mengganggu kesenanganku." Kata Andre si pemimpin perampok. "Tino, bunuh dia!"

Tino anak buahnya, memiliki badan besar dengan bekas luka di sekujur tubuhnya. Dia tertawa melihat fisik Lynx yang terlihat kecil dan lemah, serta memiliki kulit lembut seperti wanita,dia menyuruh salah satu anak buahnya untuk memberi pelajaran ke Lynx.

"Sini pemuda cantik, aku akan membuatmu tidak akan merasakan sakit." Katanya sambil mengerahkan pukulan dengan sekuat tenaga. Dibayangannya, pemuda cantik ini akan langsung jatuh dalam sekali pukul, namun kenyataannya berbeda. Pemuda di hadapannya menghilang dan dia merasa pusing lalu jatuh tidak sadarkan diri.

Lynx tidak ingin membuang waktunya, dia langsung memberi pelajaran para perampok karena dianggap sudah melewati batas.

Tino kaget melihat rekannya jatuh tanpa mengetahui apa yang terjadi. Lalu dia menyuruh beberapa orang lagi untuk maju. "Kalian bertiga, maju. Beri pelajaran dia."

Tiga orang berbadan besar langsung maju. Mereka saling berpandangan memberi kode untuk menyergap dari kiri, kanan dan depan, namun dalam hitungan detik, lagi-lagi mereka terjatuh tanpa mengetahui apa yang terjadi.

Tino yang menyaksikan merasa heran dan marah. "Semua maju, habisi dia.!"

Perampok-perampok itu segera menyerang secara bersamaan, termasuk dua orang yang memegang Amara. Namun, Lynx dengan mudah menghindari serangan demi serangan, bergerak secepat bayangan. Setiap pukulan yang ia berikan menghantam lawan-lawannya dengan kekuatan yang luar biasa, membuat mereka jatuh satu per satu.

"Tetap serang! Jangan biarkan dia menang!" teriak salah satu perampok, mencoba memotivasi rekan-rekannya.

Namun, kekacauan terjadi. Lynx terus bergerak seperti badai, menjatuhkan lawan dengan tangan kosong. Bahkan saat dua pria menyerangnya dari arah berbeda dengan kampak dan tombak, Lynx melompat tinggi ke udara, membuat mereka saling bertabrakan.

Dari tempat persembunyian, Marni mengintip dengan wajah pucat. Ia tidak percaya bahwa pria yang baru ia kenal ini bisa mengalahkan dua puluh perampok dengan begitu mudah. Tangannya menggenggam erat anaknya, yang juga menyaksikan dengan mata lebar penuh kekaguman.

"Dia... dia sangat kuat," gumam Marni dengan suara hampir tak terdengar.

Hanya dalam waktu singkat, semua perampok terkapar di tanah tidak bergerak. Lynx tidak menahan-nahan kekuatannya karena ingin cepat selesai dan segera menolong keluarga Marni. Lynx berdiri di tengah mereka, napasnya tenang, tanpa luka sedikitpun.

Andre, pimpinan perampok marah melihat semua anak buahnya berhasil dikalahkan dengan mudah.

"Kamu, berani-beraninya mengganggu kami. Rasakan kekuatan...." Belum selesai Andre berbicara, pandangannya kabur dan terjatuh tanpa menyadari apa yang telah terjadi.

Lynx yang tidak ingin membuang-buang waktu, langsung menyerang pimpinan perampok tanpa memberikan kesempatan.

Ia kemudian berjalan ke arah tawanan yang sudah dilepaskan Amara dan suaminya. sambil membawakan pakaian untuk menutupi tubuh Amara. "Kalian baik-baik saja?" tanyanya sambil menyerahkan pakaian ke Nanang. "Gunakan ini!"

Pria tua itu mengangguk lemah. "Kami... kami selamat. Terima kasih... siapa pun kau."

Lynx membantu mereka berdiri, lalu menoleh ke arah Marni, memberi isyarat bahwa semuanya aman.

Marni keluar dari persembunyiannya dengan langkah ragu, wajahnya penuh air mata. "Kau benar-benar menyelamatkan mereka... aku tidak tahu bagaimana aku bisa membalasmu."

Lynx menepuk pundaknya dengan lembut. "Tidak perlu membalas. Yang penting sekarang, kalian aman."

Tiba-tiba Nanang yang melihat pimpinan perampok tergeletak di tanah, mengambil tombak dan berlari ketempatnya. "Ini untuk istriku!" Katanya sambil menusukkan tombak ke punggung pimpinan perampok dengan penuh emosi. Dia juga menusuk beberapa perampok lainnya yang telah menyerang mereka.

Amara yang melihat kematian perampok itu terjatuh terduduk. Dia merasa bahagia karena bisa terbebas dan membalas perlakuan pimpinan perampok tersebut. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana kehidupannya jika para perampok itu berhasil menodai dirinya.

"Kamu tidak apa?" Kata Nanang mendekati Amara dan memeluk istrinya yang menangis. "Maafkan aku karena tidak bisa melindungimu."

Sementara itu, keluarga Marni yang diselamatkan tampak bingung, tetapi juga penuh rasa syukur. Ayah Marni dengan luka di wajahnya berdiri dengan tertatih-tatih, mencoba menahan rasa sakit akibat siksaan salah satu perampok. Lynx memberinya ramuan obat untuk mengurangi rasa sakit. "Minumlah ini, dapat mengurangi rasa sakitmu."

Ibunya Marni dan Jaka mendekati Amara yang masih menangis didalam pelukan Nanang, lalu mereka berusaha membantu Nanang menghibur Amara yang mengalami trauma.

"Kami tidak tahu bagaimana mengucapkan terima kasih," kata pria tua itu dengan suara berat. "Kau telah menyelamatkan kami, terutama Amara dari kejadian yang mengerikan."

Lynx hanya mengangguk sambil tersenyum kecil. "Aku hanya melakukan apa yang seharusnya dilakukan. Sekarang, yang penting kalian semua aman."

"Ini keluargaku, Lynx. Ini ibuku, Indri." Ia menunjuk wanita tua yang tampak rapuh namun memiliki mata yang tajam. "Ini adik iparku, Amara bersama suaminya Nanang. Dan ini Jaka, adiknya Amara."

Jaka, pria muda yang masih lajang, menatap Lynx dengan mata menyipit. "Kau benar-benar luar biasa... tapi bagaimana kami tahu kau tidak punya maksud tersembunyi? Bagaimana kalau kau bekerja sama dengan mereka?"

"Jaka!" tegur Marni dengan nada tegas. "Lynx baru saja menyelamatkan kita semua. Jangan bicara seperti itu."

Namun, Jaka tidak terpengaruh. "Aku hanya mengatakan apa yang kupikirkan, Marni. Dunia ini penuh dengan jebakan. Apa yang membuat kita yakin dia bukan bagian dari perampok ini?"

"Tutup mulutmu Jaka, Kakakmu ini akan bernasib sangat buruk jika Lynx terlambat menolong kita." Kata Nanang dengan emosi.

Marni mendesah keras, berbalik ke arah Lynx. "Maafkan Jaka, Lynx. Dia hanya terlalu sering disakiti dan kehilangan kepercayaan pada orang asing."

Lynx mengangkat tangannya untuk menghentikan Marni. "Tidak apa-apa. Dia punya alasan untuk meragukan aku." Ia menoleh ke arah Jaka. "Tapi aku tidak punya niat buruk. Kalau aku ingin menyakiti kalian, aku tidak akan menyelamatkan kalian dari para perampok tadi."

Nanang, yang tampak lebih tenang sekarang, berbicara dengan suara pelan. "Terimakasih atas bantuanmu Lynx. Jika kamu tidak menolong kami, tentu kami semua akan menjadi tumbal untuk pengorbanan Monrest."

"Monrest? Darimana kalian mengetahui rencana mereka? "Tanya Lynx yang terkejut.

"Kami mendengar mereka berbicara tentang banyak orang-orang yang mereka jebak dan tangkap. Mereka bilang Monrest membutuhkan lebih banyak orang untuk pengorbanan."

Lynx menoleh cepat. "Kalian tahu di mana mereka ditahan?"

Nanang menggeleng. "Tidak ada yang tahu pasti. Mereka sangat rahasia soal itu. Tapi kami pernah mendengar gosip bahwa para perampok mendirikan perkampungan besar besar di dalam hutan. Ada yang bilang tempat itu tidak jauh dari sungai yang memiliki air hitam."

Lynx merenung sejenak. "Aku harus menyelidikinya." Ia menatap Marni. "Kalian harus mencari tempat yang aman sekarang. Bergabunglah dengan rombongan Narendra dan Arkha. Mereka menuju desa Uksa."

Marni tampak ragu. "Tapi kau sendiri?"

Lynx tersenyum tipis. "Aku akan baik-baik saja. Fokus kalian adalah bertahan hidup dan memastikan tidak ada lagi yang hilang."

Namun, Jaka tetap tidak yakin. "Bagaimana kami tahu kau tidak membohongi kami? Bagaimana kalau ini jebakan?"

"Cukup, Jaka!" suara Marni meninggi. "Dia sudah membuktikan dirinya. Kau hanya takut, dan itu membuatmu tidak berpikir jernih."

Jaka akhirnya menghela napas panjang, menyerah. "Baiklah. Tapi aku tetap akan mewaspadainya."

Lynx tersenyum pada Marni. "Arahkan mereka ke barat. Narendra akan tahu bagaimana melindungi kalian." Katanya sambil memberikan arahan bagaimana cara menemukan Narendra.

Marni menggenggam tangan Lynx dengan erat. "Hati-hati, Lynx. Aku tidak ingin mendengar sesuatu yang buruk menimpamu."

Lynx hanya mengangguk sebelum berbalik, mengikuti jejak yang mengarah ke arah sungai yang digambarkan mereka.

